Minggu, Oktober 21, 2007

Aku Rindu di Rumah-Mu

saat aku membentangkan sayap,
seraya terbang menembus awan,
terbesit ketakutan kalau aku akan jatuh,
tetapi ketika ku ingat Engkau,
aku menjadi yakin,
ku kan dapat terus terbang menuju rumah-Mu,
dan ketika ku tlah hinggap,
aku bersujud di Rumah-Mu,
mataku terasa berat,
aku merasa Engkau sangat mencintaiku,
meskipun selama ini ku sering mengecewakan-Mu,
Ya Alloh,
Ampunilah semua dosaku,
Kabulkanlah segala permintaanku,
dan jagalah aku dari kenistaan,
masukkanlah aku kedalam Rumah Indah-Mu,
Rumah yang kekal abadi,
bersama keluargaku,
dan orang-orang tercintaku,
aku bangga bisa hadir di rumah-Mu,
aku ingin hadir disini setiap waktu,
Ya Alloh,
ku harap setelah pulang dari rumah-Mu ini,
ku kan bertambah ingat kepada-Mu,
ku kan bertambah mencintai-Mu,
dan ku berharap,
ku kan hadir kembali di rumah-Mu,
cintailah aku,
sayangilah aku,
sepanjang waktu,
karena hanya Engakau Yang Paling Mengerti aku

Sekarang Kah?

Usia-ku belum cukup tua,
Namun tidak lagi muda,
Aku masih bisa menikmati,
Merasa jauh dari mati,
Namun itu tak berlangsung lama,
Hari ini aku merasa berbeda,
Aku merasa sedang berdiri,
Tidak jauh dari mati,
Hari ini kudapat berbagai tanda,
Aku akan tutup usia,
Harus-kah sampai disini?
Lalu aku akan mati?
Ya Alloh,Aku mencintai-Mu,
Tidak bisa ku pungkiri
Aku belum pernah setakut ini,
Jika itu memang terjadi,
Hanya Cinta-Mu yang ku harap,
Engkau yang Paling Mengerti aku,
Berikanlah yang terbaik untuk-ku

Surat tuk Yang Maha Mengerti

Surat ini kutulis sebagai perasaan cintaku pada-Nya,
Karena hanya Dia-lah Yang Maha Mengerti,
Hanya Dia Yang Bisa Memberikan Yang Terbaik untuk-ku,
Bukannya aku tak bisa berkata,
Namun ini hanya lebih sebagai ungkapan cintaku pada-Nya,
Yang justru tak bisa dituliskan dengan kata-kata,
Ya Alloh,
Sungguh sangat senangnya hatiku ketika memanggil-Mu,
Aku akan terus mencoba 'tuk selalu dekat dengan-Mu,
Semoga surat ini menjadi penghubung jarak diantara kita,
Cintailah aku,
Karena hanya Engkau Yang Paling Mengerti aku

Sabtu, Oktober 20, 2007

Haruskah Cinta itu Diam?

Aku melihat…
Aku terpana…
Lalu aku terpesona…

Semenjak itu aku merasakan perbedaan dihatiku,
Dulu hatiku selalu jujur padaku,
Meski kadang juga pernah berbohong,

Kini tiba-tiba hatiku berbelok,
Dan selalu berusaha membohongi diriku
Untuk selalu mengingatnya

Wajahnya…
Kelembutannya…
Manjanya…

Selalu terngiang didalam benakku,
Selalu, selalu dan selalu…
Akupun tak bias melupakannya meski ku mencoba

Saat matahai terbenam,
Saat aku mulai terlelap,
Dia ada di penghantar tidurku…

Ketika matahari terbit,
Ketika aku berusaha untuk bangkit,
Dia ada disisiku ‘tuk bangkitkan aku…

Dia tidak bias hilang dari ingatanku,
Meskipun ku coba menghilangkan,
Namun dia selalu mencari celah dihatiku,

Sampai kapan aku harus memendamnya?
Haruskah ku berbicara?
Atau terus diam sambil berharap dia yang berbicara?