Senin, Maret 03, 2008

Penyesalan Diri & Penemuan Diri

"Penyesalan selalu datang diakhir." Aku tak pernah menyalahkan ungkapan itu, bahkan aku membenarkannya. Hari ini aku merasakan sebuah penyesalan hidup yang seakan 'mustahil' untuk ditebus. Aku menyesal atas perbuatan yang selama ini aku lakukan. Aku tak habis pikir, kenapa aku melakukannya? Aku bukan manusia sempurna, aku bukan manusia tanpa dosa, tapi aku tak ingin hidupku ini sia-sia. Setidaknya masih ada asa dihatiku, aku bisa menyelesaikan hidupku dengan bahagia, bukan bahagia yang sementara, tapi kebahagiaan yang kekal abadi selama-lamanya.
Pikiranku saat ini sedang kacau. Emosiku "meledak-ledak". tapi aku tak kuasa untuk meluapkannya. Yang ada hanyalah senyum yang 'menipu'. Aku terus memaksa hati ini untuk tetap tersenyum, aku tak ingin diriku merasakan kesedihan. Mataku trus kuminta agar tidak mengeluarkan air matanya. Jari-jariku ku katupkan satu-persatu, kemudian kulepas lagi, mulutku kugerak-gerakkan sambil mengeluarkan suara lirih memuji Asma-Nya.
Aku sedang gembira saat ini. Aku tau Alloh masih menyayangiku. Dia selalu menunjukkan padaku jalan yang terbaik. Disaat aku lupa, Dia-lah yang mengingatkanku, disaat aku tersesat, Dia-lah yang memberiku 'peta' untuk kembali kejalan yang benar. Dan kemarin, aku telah diberi-Nya teguran, aku diberikan sebuah 'peta' yang lebih berharga daripada peta harta karun diseluruh dunia.
Teguran itu berisikan bahwa "Aku telah melupakan diriku." Betul, aku memang tidak sadar. Banyak waktu yang aku gunakan untuk "menolong" dan "membantu" orang lain. Tapi aku LALAI, aku LUPA... Aku mengabaikan diriku, aku belum bisa "menolong" dan "membantu" diri ini agar keluar dari masalah-masalah. Aku telah gagal instropeksi.
Aku ingat betul, anggota tubuhku ku "siksa", untuk kebanggaan diri. Saat itu aku merasa, jika aku berhasil memecahkan masalah orang lain aku akan puas, aku akan berbangga.. Aku terlalu sombong pada diriku sendiri. Hingga aku mengabaikan kepentingan diriku.
Aku benar-benar menyesal, aku telah melakukan kesalahan. 2 Hari berturut-turut aku paksa tubuhku 'menikmati' malam. Aku harus tidur sampai jam 03.30 pagi. Hari pertama aku ingat tubuhku sudah tak kuasa untuk berdiri, bahkan aku harus berlari dari mushola untuk mencari tempat 'pingsan' di tempat tidur. Setelah itu aku coba menghibur diri dengan mengunjugi 'water world' untuk menghilangkan kepenatan dan menambah semangat. Sepulang dari 'mencuci pikiran' itu. Aku dihadapkan pada sebuah cobaan yang menimpa pada saudara JM-ku. Aku antar dia untuk berobat, selama diperjalanan tak hentinya aku terus 'berbicara' pada Alloh, aku selalu mohon petunjuk-Nya. Dari situ aku benar-benar bisa bersyukur atas apa yang aku miliki dan rasakan sekarang. sepulang dari berobat, diperjalanan mataku benar-benar tak bisa diajak kompromi. Tapi aku tak menyerah kuteguk kopi panas untuk 'pengganjal' mataku, karena malam itu ada pengajian semalam suntuk.
Aku berhasil, ujian pertama selesai. Aku bisa bertahan sampai pengajian semalam suntuk usai. Tapi malam itu aku masih ada tugas yang harus diselesaikan. Materi "FGD" untuk santri-santri Pondok belum selesai. Aku terpaksa kembali memaksa mataku untuk tidak beristirahat dulu. Aku teguk segelas kopi baru lagi... Kuselesaikan sampai jam 02.45. Setelah itu aku Sholat tahajud sampai jam 03.30. Aku mohon petunjuk pada-Nya untuk acara FGD nanti.
Hari Minggu kemarin, adalah hari yang sudah lama aku nanti. Aku seperti lega "akhirnya kegiatan ini bisa terlaksana"... Kukorbankan juga kesenanganku bermain bola bersama santri laki-laki, untuk acara itu. Bahkan kupersingkat "permohonan pagiku" pada-Nya, karena aku takut terlambat. Tapi Alloh berkehendak lain. Dia mengujiku.. Aku kagum pada-Nya, Dia membuat diriku tersenyum.. Aku tersadar aku adalah manusia. Aku juga tersadar jika aku telah melupakan diriku. Aku terlalu berobsesi, sehingga aku melupakan diriku.
Aku bersyukur pada Alloh, dan juga pada "sahabat-sahabatku" yang lantaran mereka 'menggagalkan' sebuah program yang telah aku susun dengan penuh 'pengorbanan'. Aku mendapat pelajaran banyak dari mereka. Aku tidak marah pada mereka, justru aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tega 'melupakan' diriku?
Sebuah pelajaran yang dapat aku ambil, untuk mendapat "hadiah" yang Maha Indah dari Alloh ternyata membutuhkan pengorbanan. Alhamdulillah, aku bisa melihat hikmah ini dari 'kacamata' positif. Aku tidak mencari-cari kesalahan atau menimpakan kesalahan. Aku sekarang justru dapat tersenyum.. Hatiku telah bangun. Sekarang aku telah siap untuk menata diriku. Aku siap untuk"berkumpul" lagi dengan diriku, memecahkan masalah "bersama-sama" dan meraih kebahagian yang kekal abadi selama-lamanya.

Tidak ada komentar: